Selasa, 25 April 2017

Hacker Porak-porandakan Situs Pemerintah Belanda

Hasil gambar untuk hackersLaporan BBC menyebutkan bahwa sebuah serangan cyber dalam skala masif telah menyerang pemerintah Belanda. Sejumlah situs resmi milik instansi pemerintah Belanda dan layanan publik dikabarkan tumbang akibat ulah hacker.

BBC melansir, serangan cyber ini dimulai pada sore hari kemarin, Sabtu (14/2/2015), waktu setempat. Rencana serangan ini sendiri menurut informasi yang beredar sebenarnya telah diketahui pemerintah Belanda setelah mendapatkan peringatan dari pihak pemerintah Amerika Serikat (AS).

Bahkan divisi pertahanan cyber yang dipayungi oleh Departemen Pertahanan AS (Pentagon) juga telah memprediksi bahwa serangan akan berlanjut ke Perancis dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Belum diketahui secara pasti siapa dalang dibalik serangan cyber yang menyasar otoritas negara-negara di Eropa ini. Hanya saja telah diketahui bahwa serangan yang dilakukan adalah jenis 'DDoS Attack'.

DDoS Attack belakangan identik dengan kelompok hacker yang menamakan dirinya sebagai '
Lizard Squad'. Reputasi mereka sebagai kelompok peretas jempolan dimulai pada akhir tahun 2014 kemarin, tepatnya pada malam perayaan Natal. Saat itu Lizard Squad mengklaim bahwa merekalah pihak yang bertanggung jawab atas tumbangnya dua layanan berbasis internet di ranah industri game, yakni PlayStation Network (PSN) dan Xbox Live.

Lalu pada awal Januari 2015 Lizard Squad kembali beraksi. Kali ini tak tanggung-tanggung, enam (6) jejaring sosial kenamaan dibuat luluh lantak. Keenamnya adalah Facebook, Instagram, Facebook, Instagram, MySpace, AOL Instant Messenger, Tinder dan Hipchat. Kesemuanya terdidentifikasi mendapat serangan DDoS Attack.













sumber :liputan6



Hacker Retas Ribuan Akun Pelanggan Vodafone

Hasil gambar untuk hackersKejahatan dunia maya (cybercrime) kembali menimpa perusahaan telekomunikasi asal Inggris, yakni Vodafone. Kali ini hacker meretas 1.827 akun pelanggan. Aksi yang terjadi pada Sabtu (31/10/2015) lalu tersebut merupakan yang kedua kalinya dalam satu bulan ini.

Menurut juru bicara Vodafone, seperti dikutip Reuters, Minggu (1/11/2015), hacker itu kemungkinan mendapat akses dari kode akun bank pengguna, termasuk empat digit angka terakhir dari akun bank mereka, tak terkecuali nama dan nomor ponselnya.

Kejadian ini memperlihatkan adanya upaya untuk melakukan penipuan dengan meretas data mereka dari akun Vodafone. 

"Mereka (hacker) melakukan hal itu dengan menggunakan alamat email dan password yang diperoleh dari sumber tak dikenal di luar Vodafone," ujar juru bicara Vodafone.

"Untungnya, tidak ada nomor kartu kredit ataupun kartu debit yang berhasil diperoleh (peretas). Namun, tetap saja kejadian ini berpotensi terjadinya penipuan atau phishing terhadap 1.827 pelanggan," katanya lagi. 

Perusahaan pun sempat mengontak sebagian pihak yang terlibat, dan memastikan bahwa pelanggan 
tak perlu khawatir atas kejadian ini. 


















sumber:liputan6

Polisi: 31 WN China dan Taiwan Lakukan Cyber Crime di Perum Green Garden

Polisi: 31 WN China dan Taiwan Lakukan Cyber Crime di Perum Green GardenJakarta - Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya mengamankan 31 WN China dan Taiwan di Perumahan Green Garden dan di Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat. Mereka diduga melakukan tindak pidana cyber crime di rumah tersebut.

Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Andi Adnan mengatakan, penggerebekan bermula dari adanya informasi kedatangan puluhan WN China dan Taiwan yang akan bekerja di Indonesia.

"Tetapi, setelah dibuntuti sampai Jakarta mereka tinggal di Perumahan Green Garden. Dan setelah didalami, diketahui mereka ini datang ke Jakarta bukan untuk bekerja melainkan melakukan tindak kejahatan cyber," jelas Andi kepada wartawan di lokasi, Kamis (4/8/2016).


Andi mengatakan, para pelaku ini direkrut oleh seseorang untuk melakukan kejahatan terhadap warga Negara Taiwan. Modus para pelaku adalah mengaku sebagai polisi dan jaksa dan mengancam korban akan diproses atas tindak pidana money laundering.

"Kalau korban tidak mau diproses, selanjutnya korban diminta untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening pelaku yang berada di Taiwan," imbuhnya.

Di rumah dua lantai itu, para pelaku melakukan aktivitasnya. Sejumlah pesawat telepon PSTN dan perangkat komputer terpasang di lantai 2 rumah tersebut.

Aktivitas mereka dilakukan di lantai 2 rumah tersebut. Di situ, terpasang bilik-bilik untuk berkomunikasi via pesawat telepon PSTN yang sudah dipasangi alat pengedap suara.

Ada 10 bilik di lokasi yang juga dilengkapi dengan peralatan komputer. Saat polisi menggerebek rumah tersebut, sambungan internet dan komputer masih menyala.

Aksi kejahatan cyber yang dilakukan WN China dan Taiwan ini bukan yang pertama kali diungkap polisi. Selama 2015 lalu, Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya pernah menangkap sekitar 500 WN China dan Taiwam di beberapa lokasi di Jakarta hingga Bogor, yang juga melakukan kekahatan serupa.


















sumber : detik.com

Situs MUI Diretas, Polri: Subdit Cyber Crime Kita Siap Bantu





Hasil gambar untuk cyber crimeJakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan segera melapor ke polisi terkait website resmi mereka yang diretas. Tim Subdit Cyber Crime Polri siap membantu MUI mengembalikan website mereka, hanya saja Polri masih menunggu laporan. 

"Cyber crime kita akan siap bantu kalo di-hack. Harus diberi tahu dong, penyidik, cyber kita belum tentu juga paham," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar usai sosialisasi program di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (28/8/2016). 

"Nanti dari pihak majelis ulama akan memperkuat dugaan adanya pelanggaran hukum terkait kejahatan cyber yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu terhadap website majelis ulama," jelasnya. 

Ditanya mengenai perilaku meretas secara umum, Boy menyebutkan bisa memiliki motif bermacam-macam. 

"Sekedar iseng, untuk mengganggu program-program pemilik web, demikian juga ada misi- misi tertentu," sebut Boy.

Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Baharun mengaku akan segera melaporkan hal tersebut ke polisi.

"Namun jika terjadi peretasan seperti ini pasti MUI akan lapor ke polisi," ujar Ketua Komisi Hukum dan Perundangan-undangan MUI Baharun melalui pesan singkat kepada detikcom, Minggu (28/8/2016).

Pantauan detikcom, Minggu (28/8/2016) pukul 06.30 WIB, ketika mengklik www.mui.or.id, muncul tulisan f**k ISIS. Jika kalimat itu diklik, akan muncul ke halaman dengan background hitam dengan tulisan:

"Islamic State Army Members:SAHARA H4xOR # Thex@b1 The Prophet S.A.W said, you will invade the Arabian Peninsula and Allah will grant it (to you). Then (you will invade) Persia and Allah will grant it (to you). Then, you will invade Rome and Allah will grant it (to you). Then, you will invade The Dajjal and Allah will grant him (to you). F**k!!!!". 



























sumber: detik.com

7 WN China di PIK Ditangkap Imigrasi, Diduga Pelaku Cyber Crime


Hasil gambar untuk cyber crime
Jakarta - Polisi meringkus 7 warga negara asing (WNA) asal China di sebuah kompleks perumahan di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Ketika digerebek, polisi mendapatkan barang bukti yang diduga dijadikan alat cyber crime.

"Anggota berhasil mengungkap dan mendapati rumah di Kompleks Katamara. Didapatkan warga negara asing praktik-praktik dugaan penipuan. Kenapa kita duga penipuan? Sebab, isi rumah didapatkan alat itu seperti ini bisa kita katakan barang bukti," kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Awal Chairuddin di Kompleks Katamaran, JI Trimaran Permai, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakut, Selasa (24/1/2017).

Ketujuh WNA asal China tersebut, lanjutnya, diduga menipu warga di negara tertentu. Namun mereka memilih Jakarta sebagai tempat praktik dugaan penipuan tersebut. Penggerebekan ini dilakukan pada Sabtu (21/1) sekitar pukul 02.00 WIB. Ketujuh pelaku ini berinisial CZH (25), LX (25), WLY (26), XLS (38), CY (21), SH (18), dan WM (22). Di antara mereka, tidak ada yang dapat berkomunikasi kecuali menggunakan bahasa China.
Pada saat penggerebekan, ditemukan barang bukti berupa komputer, modem, dan alat yang digunakan untuk menipu. Selain itu, ada kartu perdana dari beberapa provider telekomunikasi di Indonesia. Ada 12 ribu kartu perdana. Ini kita asumsikan, mungkin untuk menghubungi siapa pun secara random. Mereka menggunakan provider Indonesia sehingga juga membuat sulit untuk dilacak. Karena diduga sasarannya ke negara tertentu," ujar Awal.
Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan pihak keimigrasian. Sebab, ketujuh WNA ini juga memiliki kesalahan dalam izin tinggal di Indonesia.

Saat ini, ketujuh WNA ditahan di rumah detensi pihak Imigrasi. Dalam pengembangan kasus ini, Polsek Penjaringan dan Polres Jakut bekerja sama dengan Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya. 








sumber: detik.com